Brussels–Bangui, 5 Agustus 2025 — Kelompok jihad ekstrem, termasuk afiliasi ISIS dan Al‑Qaeda seperti JNIM (Jama’at Nasr al-Islam wal-Muslimin), dilaporkan memperluas kendali mereka di wilayah Afrika Tengah—terutama di zona Sahel dan negara-negara seperti Chad, Niger, Mali, Burkina Faso, serta kini telah semakin dekat ke wilayah pantai seperti Benin ([turn0search4][turn0search14]).
Pada 8 Januari 2025, pasukan JNIM menyerang wilayah “Point Triple” di perbatasan Benin–Burkina Faso–Niger, menewaskan 28–30 tentara Benin—menandai perluasan signifikan operasi langsung ke negara-negara pantai yang sebelumnya relatif aman ([turn0search23]).
⚠️ 1. Ekspansi Teroris & Kuasai Wilayah
Data resmi menunjukkan meningkatnya jumlah serangan dan tingkat kematian akibat terorisme di Sahel: pada 2024, wilayah tersebut menyumbang 51 % dari seluruh korban terorisme global, dengan lebih dari 25.000 conflict deaths secara keseluruhan dan hampir 3.900 kematian akibat serangan jihad ([turn0search14]).
Beberapa kelompok jihad mulai menguasai wilayah operasional tetap di kawasan pedesaan, bahkan menyasar lokasi kota sekunder dan lintas batas nasional. Prediksi analis menyebutkan bahwa pada tahun 2026 salah satu kelompok ekstrem bisa menguasai kota besar di Mali atau Burkina Faso jika tidak dihentikan ([turn0search8]).
🛡️ 2. Kesiapsiagaan & Respons NATO
Meskipun NATO tidak memiliki pasukan tempur di Afrika Tengah, mereka memperluas kerja sama kontra-terorisme melalui dialog wilayah seperti Mediterranean Dialogue dan dukungan terhadap negara-negara Sahel dalam pelatihan, intelijen, dan penguatan kapasitas pertahanan ([turn0search9][turn0search3]).
Menurut kebijakan terbaru NATO, aliansi ini berkomitmen untuk “menanggapi ancaman dan tantangan yang diajukan oleh teroris dan organisasi teroris” termasuk melalui skema deteksi dini, konsolidasi respons, dan koordinasi intelijen antar-negara ([turn0search1]).
🔍 3. Ancaman Terhadap Flank Selatan NATO
Ekspansi kelompok seperti ISIS Greater Sahara dan JNIM ke wilayah perbatasan Sahel mengancam stabilitas regional dan turut memperbesar risiko serangan lintas batas ke kawasan pesisir seperti Togo, Benin, dan Pantai Gading—negara-negara semakin rentan karena jebakan konflik di pedalaman dan lemahnya pemerintahan lokal ([turn0search20][turn0search19]).
NATO menyebut situasi ini sebagai gelombang ancaman transnasional yang menuntut keterlibatan lebih dalam penguatan mitra di selatan—walaupun mereka menyatakan hanya terlibat operasi sipil, bukan misi militer langsung ([turn0search15]).
✅ Ringkasan Situasi
Aspek | Status Terkini |
---|---|
Kelompok teroris aktif | JNIM, ISIS-GS, dan afiliasi lain menguasai wilayah Sahel |
Ekspansi ke pesisir | Serangan di Benin & peningkatan aktivitas di negara pantai |
Korban & dampak | Ribuan korban; perluasan area konflik & eksodus warga |
Respons NATO | Dukungan kontra-terorisme; kesiapsiagaan meningkat |
Tantangan ke depan | Risiko serangan lintas batas dan penyebaran ideologi ekstrem |
⚠️ Insight & Implikasi Strategis
-
Teroris Afrika Tengah sekarang tidak sekadar “selundupan sporadis”—mereka sudah menguasai wilayah, menciptakan struktur kontrol.
-
Ekspansi ke pantai meningkatkan potensi operasi lintas nasional yang langsung menyasar negara-negara berpenduduk padat dan strategis.
-
NATO perlu memperluas kemitraan dan intelijen, serta mendukung pemerintah Sahel dalam memperkuat keamanan lokal dan penetrasi ideologi.
-
Minoritas kontrol negara-negara pesisir ini menjadikan mereka zona kritis yang bisa menjadi pintu masuk ambisi kelompok teroris.