Pekanbaru, 25 Agustus 2026 – Masyarakat Kota Pekanbaru menggelar salat istisqa sebagai bentuk ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kondisi kemarau dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Riau. Dalam kegiatan tersebut, warga tidak hanya memanjatkan doa agar hujan segera turun, tetapi juga mendoakan keselamatan para petugas yang sedang berjibaku memadamkan api di berbagai lokasi. Salat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat setelah kondisi lahan yang kering membuat kebakaran lebih mudah terjadi dan asap mulai memengaruhi sejumlah kawasan. Kegiatan tersebut berlangsung dengan suasana khusyuk dan diikuti masyarakat dari berbagai kalangan.
Salat istisqa dilakukan sebagai upaya memohon pertolongan Tuhan agar diberikan hujan yang dapat membantu mengatasi kekeringan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul dan mengikuti rangkaian salat serta doa bersama. Warga berharap hujan yang turun nantinya tidak hanya membasahi permukiman, tetapi juga mencapai kawasan yang sedang mengalami kebakaran. Curah hujan yang cukup diharapkan dapat membantu petugas mengendalikan api sekaligus mengurangi potensi munculnya titik api baru.
Doa yang dipanjatkan dalam kegiatan tersebut juga secara khusus ditujukan bagi para petugas pemadam karhutla. Mereka saat ini bekerja di tengah kondisi lapangan yang penuh tantangan, termasuk panas, asap, medan sulit, serta luasnya kawasan yang harus dipantau. Petugas dari berbagai unsur harus bekerja secara bergantian untuk memastikan api tidak menyebar ke area yang lebih luas. Masyarakat berharap seluruh personel yang terlibat dalam operasi pemadaman diberikan kesehatan, keselamatan, dan kekuatan selama menjalankan tugas.
Kondisi karhutla di Riau menjadi salah satu alasan utama masyarakat menggelar salat istisqa. Sejumlah kawasan masih menghadapi kebakaran, terutama wilayah yang memiliki lahan gambut dan vegetasi kering. Lahan gambut memiliki karakteristik khusus karena api dapat menyebar di bawah permukaan dan sulit terlihat dari atas. Pemadaman membutuhkan waktu lebih lama karena petugas harus memastikan bara di dalam tanah benar-benar padam. Kondisi tersebut membuat hujan menjadi salah satu faktor alam yang sangat membantu dalam meningkatkan kelembapan lahan.
Asap yang muncul akibat kebakaran juga menjadi perhatian masyarakat. Ketika api membakar lahan dalam jumlah besar, asap dapat terbawa angin menuju wilayah permukiman. Kondisi udara yang dipenuhi asap dapat mengurangi kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas dan membuat jarak pandang menurun. Warga yang harus berada di luar ruangan juga dapat merasakan bau asap yang cukup kuat. Karena itu, masyarakat berharap kondisi cuaca segera berubah dan hujan dapat membantu membersihkan udara dari partikel asap yang berasal dari kebakaran.
Selain berdoa, masyarakat tetap diharapkan melakukan berbagai langkah nyata untuk membantu penanganan karhutla. Warga dapat memberikan informasi kepada petugas apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Informasi yang diterima sejak awal memungkinkan petugas melakukan pengecekan sebelum api berkembang menjadi lebih besar. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka, terutama ketika kondisi lahan sangat kering dan angin cukup kencang. Api kecil dapat dengan mudah menyebar dan sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan mendukung.
Pemerintah dan aparat terkait juga terus melakukan operasi pemadaman di sejumlah wilayah Riau. Petugas gabungan dari berbagai instansi dikerahkan untuk menangani titik kebakaran yang terdeteksi. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dengan menggunakan pompa dan sumber air yang tersedia. Pada lokasi tertentu, dukungan dari udara juga dapat digunakan untuk menjangkau kawasan yang sulit diakses oleh tim darat. Strategi pemadaman disesuaikan dengan karakteristik lahan dan kondisi api di masing-masing lokasi.
Penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan tenaga manusia, tetapi juga peralatan yang memadai. Pompa air, selang, kendaraan operasional, alat pelindung diri, serta peralatan komunikasi menjadi kebutuhan penting bagi petugas di lapangan. Kondisi medan yang sulit membuat mobilisasi peralatan menjadi tantangan tersendiri. Petugas harus memastikan sumber air dapat dijangkau dan peralatan dapat berfungsi dalam kondisi lapangan yang berat. Dukungan logistik juga diperlukan agar personel dapat menjalankan operasi dalam waktu yang panjang.
Kegiatan salat istisqa juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas masyarakat di tengah bencana. Warga tidak hanya memikirkan kondisi lingkungan, tetapi juga menunjukkan perhatian terhadap orang-orang yang berada di garis depan penanganan kebakaran. Para petugas harus menghadapi risiko ketika berada dekat dengan titik api, terutama ketika angin berubah dan api bergerak secara tiba-tiba. Doa bersama menjadi bentuk dukungan moral dari masyarakat kepada mereka yang menjalankan tugas. Semangat tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian warga terhadap penanganan karhutla.
Selain faktor cuaca, pencegahan tetap menjadi bagian penting dalam mengatasi persoalan karhutla. Hujan memang dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi risiko kebakaran, tetapi persoalan dapat kembali muncul apabila pembakaran lahan dilakukan ketika kondisi kembali kering. Karena itu, masyarakat dan pemilik lahan perlu memiliki kesadaran untuk menjaga kawasan agar tidak menjadi sumber api. Pemerintah juga perlu memperkuat pengawasan dan penegakan aturan terhadap pembakaran yang dilakukan secara sengaja. Pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika karhutla sudah meluas.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi mengenai kondisi kualitas udara selama karhutla masih berlangsung. Ketika konsentrasi asap meningkat, warga dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai. Kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian lebih karena paparan udara tercemar dapat lebih berisiko bagi mereka. Sekolah, tempat kerja, dan fasilitas umum juga perlu menyesuaikan aktivitas apabila kondisi udara memburuk. Langkah tersebut penting untuk mengurangi dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat.
Harapan terhadap turunnya hujan menjadi semakin besar karena kondisi lahan yang terus mengering dapat meningkatkan risiko kebakaran baru. Hujan yang cukup dan merata dapat membantu meningkatkan kelembapan tanah serta mengurangi material kering yang mudah terbakar. Selain itu, hujan juga dapat membantu petugas dalam proses pendinginan setelah api berhasil dipadamkan. Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa hujan bukan satu-satunya solusi. Upaya pemadaman, pencegahan, pengawasan, serta pengelolaan lahan tetap harus dilakukan secara bersamaan.
Salat istisqa yang digelar masyarakat Pekanbaru menjadi bentuk ikhtiar spiritual di tengah perjuangan menghadapi karhutla. Warga memohon agar hujan segera turun sekaligus mendoakan keselamatan para petugas yang berada di lapangan untuk memadamkan api. Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran, doa tersebut berjalan beriringan dengan upaya pemadaman dan pencegahan yang dilakukan pemerintah serta masyarakat. Harapan warga sederhana, hujan segera turun, api dapat dikendalikan, udara kembali bersih, dan seluruh petugas yang menjalankan tugas dapat kembali dengan selamat kepada keluarga mereka.





