Jakarta, 13 Agustus 2026 – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menerima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers sebagai bentuk pengakuan atas perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik. Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan. Haedar telah menekuni dunia pers sejak masih menjadi mahasiswa dan hingga kini tetap aktif menulis di sejumlah media. Perjalanan panjang tersebut membuatnya tidak hanya dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki pengalaman langsung dalam dunia jurnalistik. Saat menerima penghargaan itu, Haedar kembali mengenang masa-masa awal ketika dirinya harus menjalani proses panjang untuk menjadi wartawan lapangan.
Haedar mengungkapkan, dirinya mulai benar-benar ditempa sebagai wartawan ketika bergabung dengan Suara Muhammadiyah pada era 1980-an. Selama hampir lima tahun, ia menjalani tugas sebagai wartawan lapangan dengan berbagai keterbatasan fasilitas. Untuk mendapatkan berita, Haedar harus berpindah dari satu daerah ke daerah lain menggunakan berbagai moda transportasi. Ia pernah naik bus, kereta api, kendaraan umum lainnya, bahkan berjalan kaki demi mencari informasi yang akan ditulis menjadi berita. Pengalaman tersebut menurutnya menjadi proses penting yang membentuk karakter dan ketelitiannya sebagai seorang jurnalis.
Pengalaman menjadi wartawan lapangan membuat Haedar memahami bahwa pekerjaan jurnalistik bukan sekadar menulis informasi yang diperoleh dari satu tempat. Seorang wartawan harus mampu mencari fakta, melakukan pengamatan, berbicara dengan berbagai pihak, kemudian menyusun informasi tersebut secara cermat sebelum diserahkan kepada redaksi. Proses itu membutuhkan ketekunan sekaligus kesiapan menerima koreksi. Haedar mengakui bahwa dirinya harus melalui masa penggemblengan yang cukup keras dari pimpinan redaksi ketika itu. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bekal penting yang kemudian memengaruhi cara pandangnya terhadap kualitas tulisan dan kerja jurnalistik.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Haedar adalah ketika naskah berita yang dibuatnya tidak diterima oleh redaksi. Bukan hanya dikembalikan atau diminta diperbaiki, beberapa naskah yang menurutnya sudah dibuat dengan sungguh-sungguh bahkan pernah disobek di hadapannya. Naskah lainnya dicoret menggunakan tinta merah karena dinilai belum memenuhi standar yang ditetapkan redaksi. Pengalaman tersebut sempat membuatnya merasa sakit hati karena ia merasa telah berusaha menulis berita dengan prinsip jurnalistik yang diyakininya. Namun, dari proses itulah Haedar belajar bahwa seorang wartawan harus siap menerima kritik dan memperbaiki kesalahan dalam tulisannya.
Menurut Haedar, pengalaman tersebut membedakan antara menjadi penulis dengan menjadi wartawan. Seorang penulis dapat menuangkan gagasan berdasarkan sudut pandang dan pengetahuannya, sementara wartawan memiliki tanggung jawab lebih besar untuk mengumpulkan informasi dan menghadirkan berita berdasarkan fakta. Wartawan juga harus mampu bekerja dalam tekanan waktu tanpa mengabaikan ketelitian. Proses penyuntingan yang ketat di ruang redaksi menjadi bagian penting untuk memastikan informasi yang diterbitkan memiliki kualitas. Pengalaman tersebut kemudian membentuk sikap Haedar yang dikenal cukup tegas terhadap kualitas tulisan ketika dirinya dipercaya menduduki posisi redaksional.
Setelah melewati pengalaman sebagai wartawan lapangan, Haedar kemudian berkembang menjadi bagian dari jajaran redaksi hingga akhirnya dipercaya menjadi pemimpin redaksi Suara Muhammadiyah. Pengalaman di lapangan menjadi modal penting dalam menjalankan tugas tersebut. Ia mengaku pengalaman menerima koreksi secara langsung membuat dirinya memahami pentingnya ketelitian dalam menghasilkan sebuah berita. Ketika berada di posisi pimpinan redaksi, Haedar juga menerapkan standar yang ketat terhadap tulisan para wartawan dan penulis di lingkungan media yang dipimpinnya. Ia tidak ingin naskah yang dibuat secara asal-asalan langsung diterbitkan tanpa melalui proses pemeriksaan yang memadai.
Perjalanan Haedar di dunia pers juga tidak berhenti setelah dirinya aktif memimpin Muhammadiyah. Ia tetap produktif menulis berbagai gagasan dan pemikiran mengenai persoalan sosial, kebangsaan, keagamaan, serta kehidupan masyarakat. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa dunia jurnalistik telah menjadi bagian panjang dari perjalanan intelektualnya. Pengalaman sebagai wartawan turut membentuk cara Haedar melihat pentingnya informasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Menurutnya, pers memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi secara benar, berimbang, dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
Pemberian status Wartawan Utama Khusus kepada Haedar Nashir sekaligus menjadi penanda perjalanan panjangnya selama lebih dari empat dekade di dunia pers. Pengalaman mulai dari wartawan lapangan, menjalani proses penyuntingan yang keras, hingga dipercaya memimpin redaksi menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk karakter jurnalistiknya. Kisah naskah yang pernah disobek dan dicoret tinta merah menjadi gambaran bagaimana proses pembelajaran seorang wartawan pada masa itu berlangsung dengan disiplin yang tinggi. Bagi Haedar, pengalaman tersebut bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan pelajaran mengenai pentingnya ketelitian, tanggung jawab, dan etika dalam menghasilkan informasi. Penghargaan yang diterimanya diharapkan semakin menegaskan bahwa tradisi pers yang profesional dan berintegritas tetap penting untuk dijaga di tengah perubahan besar ekosistem media dan derasnya arus informasi digital.





