Jakarta, 13 September 2026 – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengapresiasi penyelenggaraan pameran retrospektif maestro seni rupa Indonesia almarhum Nasirun bertajuk “Bersimpuh di Kaki Para Guru” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Pameran yang dibuka pada Sabtu malam, 12 September 2026, tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang Nasirun dalam dunia seni rupa sekaligus menghadirkan hubungan antara karya sang maestro dengan para seniman yang menjadi guru dan sumber inspirasinya. Listyo Sigit hadir dalam pembukaan bersama sejumlah tokoh, termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan budayawan KH D. Zawawi Imron. Kehadiran berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa karya seni dapat menjadi ruang pertemuan untuk mengenang sekaligus mempelajari nilai yang diwariskan seorang seniman. Pameran tersebut juga memiliki makna khusus karena berupaya mewujudkan keinginan Nasirun yang belum sempat terlaksana semasa hidupnya. Gagasan penghormatan kepada para guru menjadi salah satu pesan utama yang menonjol dalam keseluruhan penyelenggaraan pameran.
Pameran retrospektif tersebut menampilkan perjalanan artistik Nasirun yang dikenal kuat mengolah unsur tradisi, cerita wayang, pengalaman spiritual, hingga nilai-nilai budaya Jawa ke dalam bahasa seni rupa kontemporer. Karya-karyanya tidak hanya dipandang sebagai objek visual, tetapi juga merekam perjalanan pemikiran dan proses pembelajaran yang berlangsung selama puluhan tahun. Dalam perjalanan tersebut, Nasirun tidak pernah berdiri sendiri karena terdapat sejumlah figur yang memberikan pengaruh terhadap cara pandang maupun proses kreatifnya. Karena itu, pameran tidak semata-mata menempatkan Nasirun sebagai pusat perhatian, tetapi juga menghadirkan semangat penghormatan kepada mereka yang membentuk perjalanan keseniannya. Pendekatan tersebut membuat pameran mempunyai dimensi pendidikan yang cukup kuat bagi masyarakat dan generasi seniman muda. Nilai penghormatan terhadap guru dinilai tetap relevan karena proses belajar selalu membutuhkan keteladanan, dialog, dan kesediaan menerima pengetahuan dari generasi sebelumnya.
Kapolri memandang ruang seni dan kebudayaan mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat karena dapat menjadi sarana membangun karakter sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan. Karya seni mampu menyampaikan pesan yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui pendekatan formal, terutama mengenai pengalaman hidup, penghormatan, kebersamaan, dan identitas budaya. Pameran Nasirun memberikan gambaran mengenai bagaimana seorang seniman menjalani proses panjang untuk menemukan karakter karya tanpa meninggalkan akar tradisi yang membentuk dirinya. Sikap tersebut dapat menjadi pelajaran bahwa perkembangan zaman tidak harus membuat seseorang kehilangan penghormatan terhadap sejarah dan orang-orang yang telah memberikan pengetahuan. Semangat untuk terus belajar sekaligus menghargai guru menjadi nilai yang dapat diterapkan jauh melampaui dunia seni rupa. Apresiasi terhadap kegiatan kebudayaan seperti ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga ruang publik tetap memiliki tempat bagi dialog, kreativitas, dan penghargaan terhadap karya anak bangsa.
Penyelenggaraan “Bersimpuh di Kaki Para Guru” juga berkaitan erat dengan keinginan Nasirun semasa hidup untuk menggelar karya bersama karya para gurunya. Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pencapaian seorang seniman tidak dipandang semata-mata sebagai hasil kemampuan pribadi, tetapi merupakan bagian dari proses panjang belajar dari banyak orang. Setelah Nasirun meninggal dunia pada 1 Agustus 2026, rencana tersebut kemudian diwujudkan sebagai pameran penghormatan. Kementerian Kebudayaan bersama Galeri Nasional Indonesia mempersiapkan pameran dengan melibatkan keluarga dan tim kuratorial agar gagasan awal sang seniman tetap dapat tercermin. Dengan cara tersebut, publik tidak hanya diajak melihat hasil akhir berupa lukisan, tetapi juga memahami jaringan pengetahuan yang berada di belakang perjalanan kreatif Nasirun. Pameran akhirnya menjadi ruang untuk mempertemukan karya, ingatan, dan penghormatan kepada figur-figur yang memiliki pengaruh dalam perkembangan seni rupa Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenang Nasirun sebagai sosok yang mempunyai dedikasi besar terhadap seni rupa dan kebudayaan Indonesia. Nasirun dikenal mampu mengolah akar budaya, tradisi, serta nilai spiritual menjadi karya kontemporer dengan identitas yang kuat. Kehidupan dan perjalanan keseniannya juga dinilai memperlihatkan semangat bekerja yang konsisten tanpa meninggalkan sikap hormat terhadap orang-orang yang membimbingnya. Fadli menilai usia biologis seorang seniman memang memiliki batas, tetapi karya dan pemikirannya dapat terus hidup serta melintasi generasi. Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar penting penyelenggaraan pameran retrospektif setelah kepergian Nasirun. Melalui pameran, masyarakat memiliki kesempatan untuk melihat kembali perkembangan karya sekaligus memahami kontribusi sang maestro terhadap perjalanan seni rupa nasional.
Nasirun juga dikenal tidak hanya berkarya untuk dirinya sendiri, tetapi memiliki perhatian terhadap proses pembelajaran generasi yang lebih muda. Salah satu bentuknya terlihat melalui keterlibatan dalam program Belajar Bersama Maestro yang memberikan kesempatan kepada talenta muda untuk berinteraksi dan belajar secara langsung dari seniman berpengalaman. Studio pribadi Nasirun pernah menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan proses penciptaan karya dengan transfer pengalaman kepada generasi berikutnya. Pola tersebut sejalan dengan tema pameran yang menempatkan hubungan antara guru dan murid sebagai bagian penting dalam perjalanan seorang seniman. Seseorang yang pernah menerima pengetahuan pada akhirnya dapat mengambil peran sebagai pemberi pengetahuan kepada generasi setelahnya. Siklus pembelajaran semacam itu membantu menjaga kesinambungan ekosistem kebudayaan sekaligus membuka ruang bagi munculnya seniman baru. Pameran ini karena itu tidak hanya berbicara mengenai masa lalu Nasirun, tetapi juga mengenai bagaimana pengetahuan seni dapat diteruskan.
Pameran berlangsung di Galeri Nasional Indonesia mulai 12 September hingga 11 Oktober 2026 dan menjadi salah satu agenda kebudayaan penting di Jakarta. Masyarakat memperoleh kesempatan melihat berbagai karya yang merepresentasikan perjalanan kreatif Nasirun sekaligus memahami konteks yang melatarbelakangi proses penciptaannya. Kurasi dirancang untuk memperlihatkan hubungan antara karya Nasirun dan figur-figur yang menjadi rujukan dalam perjalanan artistiknya. Dengan pendekatan tersebut, pengunjung dapat melihat bahwa perkembangan seorang seniman berlangsung melalui proses yang panjang dan melibatkan banyak pengaruh. Ruang pamer juga menjadi tempat untuk mengenalkan kembali kekayaan seni rupa Indonesia kepada masyarakat yang mungkin sebelumnya belum banyak mengetahui perjalanan Nasirun. Kehadiran generasi muda diharapkan dapat memperluas apresiasi sekaligus menumbuhkan ketertarikan terhadap seni dan budaya nasional.
Penyelenggaraan pameran tersebut mempunyai arti tambahan karena menjadi agenda besar terakhir sebelum kompleks Galeri Nasional Indonesia memasuki proses revitalisasi. Pemerintah berencana melakukan pembenahan untuk memperluas dan meningkatkan kualitas ruang pamer sehingga koleksi seni nasional dapat ditampilkan dengan lebih baik. Gedung A direncanakan menjadi salah satu ruang pamer tetap yang menghadirkan karya-karya terbaik dari koleksi nasional, termasuk koleksi yang selama ini berada di lingkungan Istana Kepresidenan. Revitalisasi diharapkan membuat Galeri Nasional semakin representatif sebagai pusat seni rupa yang dapat diakses masyarakat luas. Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa pembangunan kebudayaan membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai agar karya dan pengetahuan dapat dipelihara sekaligus diperkenalkan kepada publik. Pameran Nasirun menjadi penutup simbolis sebelum Galeri Nasional memasuki tahap baru pengembangan fasilitas tersebut.
Bagi masyarakat, tema “Bersimpuh di Kaki Para Guru” membawa pesan yang dapat dimaknai lebih luas daripada hubungan antara seorang seniman dan pengajarnya. Penghormatan terhadap guru merupakan bagian dari kesadaran bahwa pencapaian seseorang tidak terlepas dari pengetahuan, pengalaman, serta dukungan orang lain. Nilai tersebut juga memiliki hubungan erat dengan karakter bangsa yang menempatkan penghormatan kepada orang yang berjasa sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial. Seni memberikan medium yang berbeda untuk menyampaikan pesan itu karena masyarakat dapat melihat langsung bagaimana pengaruh seorang guru berkembang menjadi karya baru melalui tangan muridnya. Pameran juga mengingatkan bahwa tradisi tidak harus dipertentangkan dengan kreativitas modern karena keduanya dapat berkembang secara berdampingan. Nasirun menjadi salah satu contoh seniman yang terus mengeksplorasi pendekatan kontemporer tanpa melepaskan akar budaya yang menjadi bagian dari identitas karyanya.
Apresiasi Kapolri terhadap pameran Nasirun pada akhirnya memperkuat pesan bahwa seni dan kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih berkarakter. Pameran bukan sekadar kesempatan mengenang maestro yang telah berpulang, tetapi menjadi ruang untuk meneruskan pemikiran, semangat belajar, serta penghormatan kepada para guru. Kehadiran karya Nasirun bersama jejak para figur yang memengaruhinya memberikan gambaran bahwa proses kreatif selalu tumbuh melalui perjalanan panjang dan hubungan antargenerasi. Masyarakat dapat memanfaatkan pameran tersebut untuk mengenal lebih dekat salah satu perjalanan penting dalam seni rupa Indonesia sekaligus memahami nilai yang berada di balik karya-karyanya. Pemerintah berharap ruang kebudayaan terus berkembang menjadi tempat belajar yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Warisan Nasirun pun diharapkan tetap hidup melalui karya, pemikiran, dan generasi baru yang memperoleh inspirasi dari perjalanan keseniannya.





