Jakarta, 11 Mei 2026 – Proposal balasan dari Iran terhadap rencana perdamaian yang didorong Amerika Serikat dikabarkan memuat sejumlah tuntutan besar, termasuk soal kompensasi perang dan pengakuan terkait Selat Hormuz. Proposal tersebut kemudian ditolak oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut isi tawaran Iran tidak dapat diterima.
Menurut laporan berbagai media internasional, Iran meminta adanya kompensasi atas kerusakan akibat konflik yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, Teheran juga disebut menginginkan pengurangan tekanan ekonomi melalui pencabutan sanksi dan pemulihan akses perdagangan minyak mereka di pasar global.
Salah satu poin paling sensitif dalam proposal itu adalah permintaan terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi lintasan utama distribusi minyak global. Iran disebut menginginkan pengakuan lebih besar atas kontrol dan keamanan kawasan tersebut sebagai bagian dari kesepakatan.
Pemerintah AS menolak proposal tersebut karena dianggap tidak menyentuh tuntutan utama Washington terkait program nuklir Iran dan pengurangan aktivitas militernya di kawasan Timur Tengah. Trump bahkan menyebut proposal Iran sebagai sesuatu yang “totally unacceptable” atau sama sekali tidak dapat diterima.
Ketegangan antara kedua negara juga berdampak besar terhadap stabilitas kawasan Teluk dan harga energi dunia. Kekhawatiran terhadap gangguan di Selat Hormuz membuat harga minyak internasional sempat melonjak tajam karena jalur tersebut menjadi salah satu titik vital perdagangan energi global.
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima kesepakatan yang dianggap merugikan kepentingan nasional atau melemahkan posisi strategis negara tersebut di kawasan. Pemerintah Iran juga meminta jaminan keamanan untuk mencegah serangan lanjutan dari AS maupun sekutunya.
Pengamat geopolitik menilai perbedaan tuntutan kedua pihak masih terlalu jauh untuk mencapai kesepakatan damai dalam waktu dekat. Amerika Serikat fokus pada pembatasan program nuklir Iran, sementara Teheran lebih menitikberatkan pada pencabutan sanksi, kompensasi perang, dan pengakuan pengaruh regional mereka.
Hingga kini, jalur diplomasi disebut masih terbuka melalui mediasi beberapa negara. Namun situasi di kawasan Timur Tengah tetap dipandang rawan memanas apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu dan konflik berlanjut di sekitar Selat Hormuz.








