
Lombok Tengah, 9 Agustus 2025 – Kabar menggembirakan datang dari pesisir selatan Lombok. Program konservasi penyu yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Selong Belanak berhasil menetaskan 2.000 ekor tukik selama musim peneluran tahun ini.
Ketua Pokdarwis, I Made Santika, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras relawan, masyarakat setempat, dan dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan NTB. “Kami memindahkan telur-telur penyu dari lokasi rawan ke tempat penetasan semi-alami untuk melindungi dari predator dan aktivitas manusia,” ujarnya.
Spesies penyu yang berhasil ditetaskan terdiri dari penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dua spesies yang masuk daftar terancam punah menurut IUCN. Setelah menetas, tukik langsung dilepaskan ke laut pada sore hari untuk meminimalkan risiko dimangsa burung dan ikan.
Kegiatan pelepasan tukik ini menjadi atraksi ekowisata yang menarik banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Pengunjung dapat berpartisipasi dengan menyumbang dana untuk perawatan sarang dan membeli paket edukasi konservasi.
Dinas Pariwisata Lombok Tengah mengapresiasi upaya ini, menyebutnya sebagai contoh sinergi antara pelestarian lingkungan dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. “Ekowisata seperti ini tidak hanya menjaga alam, tapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Kadispar, Lalu Fathurrahman.
Pengamat kelautan, Ratri Kurnia, menekankan pentingnya menjaga kebersihan pantai dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai agar habitat penyu tetap aman. “Penyu sering salah mengira plastik sebagai ubur-ubur dan memakannya, yang berakibat fatal,” jelasnya.
Dengan keberhasilan menetaskan ribuan tukik ini, Lombok semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat konservasi penyu penting di Indonesia, sekaligus destinasi wisata ramah lingkungan yang mendunia.