Jakarta, 3 Oktober 2026 – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 sekolah dasar. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan bahasa asing peserta didik sejak jenjang pendidikan dasar. Pengenalan lebih awal diharapkan membantu siswa membangun kemampuan komunikasi secara bertahap sesuai perkembangan usia. Pemerintah juga perlu memastikan penerapannya berjalan dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah dan tenaga pendidik.
Pembelajaran Bahasa Inggris pada tingkat sekolah dasar diarahkan untuk memberikan fondasi sebelum siswa memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Materi untuk siswa kelas 3 SD perlu disampaikan dengan pendekatan yang sederhana, komunikatif dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada tata bahasa, tetapi juga dapat menekankan kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan mengenali kosakata dasar. Pendekatan yang menyenangkan diharapkan membuat siswa lebih percaya diri menggunakan Bahasa Inggris.
Perubahan status menjadi mata pelajaran wajib juga membawa konsekuensi terhadap kesiapan guru. Sekolah membutuhkan tenaga pendidik yang memiliki kemampuan mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak usia sekolah dasar dengan metode yang tepat. Pemerintah perlu memperkuat pelatihan dan pendampingan agar kualitas pembelajaran tidak berbeda terlalu jauh antardaerah. Ketersediaan guru menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan penerapan kebijakan tersebut.
Selain tenaga pengajar, kesiapan bahan pembelajaran dan fasilitas pendukung perlu mendapatkan perhatian. Sekolah di perkotaan dan daerah memiliki kondisi yang beragam sehingga penerapan kebijakan membutuhkan pendekatan yang fleksibel. Buku, materi digital maupun media pembelajaran dapat digunakan untuk membantu siswa mengenal Bahasa Inggris secara lebih interaktif. Pemerataan akses terhadap materi tersebut penting agar kebijakan wajib Bahasa Inggris dapat memberikan manfaat kepada seluruh peserta didik.
Kemampuan Bahasa Inggris semakin dibutuhkan seiring berkembangnya teknologi dan keterhubungan global. Banyak sumber ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi tersedia dalam Bahasa Inggris sehingga penguasaan sejak dini dapat menjadi bekal bagi siswa. Namun, pembelajaran bahasa asing tetap perlu berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan Bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah. Pendidikan dasar memiliki peran dalam membangun kemampuan komunikasi tanpa mengabaikan identitas kebahasaan peserta didik.
Penerapan mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD juga membutuhkan masa persiapan agar sekolah dapat menyesuaikan kurikulum dan pembagian jam pembelajaran. Pemerintah perlu memastikan penambahan mata pelajaran tidak menimbulkan beban berlebihan bagi siswa. Metode pembelajaran yang sesuai usia menjadi penting agar Bahasa Inggris hadir sebagai pengalaman belajar yang menarik. Evaluasi secara berkala juga diperlukan untuk melihat efektivitas penerapan kebijakan di berbagai daerah.
Kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah ingin memperkuat kompetensi bahasa peserta didik sejak tahap awal pendidikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan guru, materi dan fasilitas sehingga penerapannya tidak hanya berjalan pada sekolah yang memiliki sumber daya memadai. Dengan pelaksanaan yang bertahap dan terukur, Bahasa Inggris diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa menghadapi pendidikan lanjutan dan perkembangan dunia global. Penguatan kemampuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak sekolah dasar.





