Jakarta, 8 Mei 2026 – Ketegangan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia langsung melonjak tajam setelah laporan bentrokan baru di kawasan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi internasional.
Kenaikan harga terjadi setelah kedua negara saling melontarkan tuduhan terkait pelanggaran gencatan senjata yang sebelumnya sempat meredakan situasi. Iran menuding AS melakukan serangan terhadap kapal tanker dan wilayah sipil di sekitar Selat Hormuz, sementara pihak Amerika menyebut operasi militer mereka sebagai langkah balasan atas serangan terhadap kapal perang AS.
Pasar minyak langsung bereaksi cepat terhadap perkembangan tersebut. Harga minyak Brent dilaporkan kembali bergerak mendekati level psikologis US$100 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan dalam perdagangan global.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena kawasan itu merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati wilayah tersebut, sehingga setiap eskalasi konflik langsung memengaruhi sentimen pasar internasional.
Analis energi menilai lonjakan harga minyak kali ini dipicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak dari Timur Tengah. Situasi semakin sensitif karena pasar sebelumnya sempat optimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Selain memengaruhi harga minyak mentah, ketegangan geopolitik tersebut juga mulai berdampak pada pasar energi lain, termasuk gas alam dan biaya transportasi global. Sejumlah negara pengimpor energi disebut mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pasokan berkepanjangan.
Di pasar keuangan internasional, investor cenderung bergerak ke aset aman di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Kondisi itu membuat volatilitas perdagangan global kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa jika situasi terus memburuk, harga energi dunia berpotensi mengalami kenaikan lebih besar. Kekhawatiran utama tetap tertuju pada keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi internasional.
Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata masih berlaku, pasar tampaknya belum sepenuhnya percaya situasi akan segera stabil. Para pelaku industri energi kini terus memantau perkembangan terbaru karena konflik Iran-AS dinilai masih memiliki potensi besar mengguncang ekonomi global dalam waktu dekat.








