Jakarta, 6 September 2026 – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjelaskan erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir memiliki karakter Strombolian. Jenis erupsi tersebut umumnya terjadi akibat magma yang relatif cair dengan tekanan gas sedang sehingga menghasilkan letusan-letusan kecil secara berulang. Aktivitas itu dapat melontarkan material pijar dari kawah dan dalam kondisi tertentu membentuk pemandangan menyerupai kembang api. Anak Krakatau sendiri telah berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026 setelah aktivitas vulkaniknya kembali meningkat. Pemantauan terhadap perkembangan gunung api di Selat Sunda tersebut terus dilakukan karena erupsi juga menghasilkan abu yang menyebar cukup luas. Masyarakat diminta memahami karakter letusan sekaligus tetap mengikuti rekomendasi keselamatan yang berlaku.
Faisal menjelaskan erupsi Strombolian berbeda dengan letusan eksplosif besar yang melepaskan energi sangat kuat dalam satu waktu. Pada tipe Strombolian, gas yang terkandung di dalam magma terkumpul dan kemudian dilepaskan melalui letusan dengan interval tertentu. Proses tersebut membuat aktivitas dapat terlihat sebagai semburan lava yang terjadi berulang kali dari kawah. Material yang terlontar dapat berupa lava pijar, lapili atau fragmen batuan berukuran kecil, serta material vulkanik lainnya. Sebagian material kemudian jatuh kembali di sekitar pusat erupsi, sementara abu yang lebih ringan dapat terbawa angin hingga wilayah yang jauh. Karakter tersebut menjadi salah satu ciri penting yang diamati pada aktivitas Anak Krakatau saat ini.
Aktivitas terbaru Anak Krakatau mulai meningkat signifikan pada Jumat malam, 4 September 2026. Erupsi menerus terpantau sejak sekitar pukul 23.07 WIB dan disertai suara gemuruh yang dapat terdengar dari pos pengamatan. Semburan berwarna merah menyala terlihat secara terus-menerus meskipun tinggi kolom erupsi pada periode tertentu tidak dapat diamati dengan jelas. Fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang kemudian menghasilkan aliran lava. Aktivitas seperti itu dapat berlangsung selama beberapa jam sebagai bagian dari dinamika erupsi Strombolian. Pemantauan visual dan instrumental terus dilakukan untuk melihat kemungkinan perubahan karakter aktivitas gunung.
Dalam erupsi Strombolian, tekanan gas yang mendorong magma menuju permukaan tidak selalu dilepaskan sekaligus. Gelembung gas dapat terbentuk di dalam magma kemudian bergerak ke atas sebelum pecah ketika mendekati permukaan. Pelepasan gas tersebut mendorong magma dan material vulkanik keluar dari kawah dalam bentuk semburan. Karena prosesnya berlangsung berulang, masyarakat dapat melihat beberapa letusan dalam rentang waktu tertentu dengan intensitas yang berbeda-beda. Sebagian semburan dapat menghasilkan lontaran batu pijar di sekitar kawah. Kondisi inilah yang membuat kawasan dekat pusat aktivitas tetap berbahaya meskipun letusan yang terlihat tidak selalu berukuran besar.
Badan Geologi mencatat seri erupsi Strombolian Anak Krakatau telah berlangsung sejak aktivitas gunung meningkat kembali pada Juli 2026. Gunung tersebut sebelumnya mengalami jeda erupsi cukup panjang setelah rangkaian aktivitas berskala rendah yang berlangsung hingga akhir 2023. Erupsi kembali tercatat pada 2 Juli 2026 dan status aktivitas kemudian berada pada Level III atau Siaga. Dalam rangkaian terbaru, potensi bahaya terutama berasal dari aliran lava, lontaran batu pijar, abu vulkanik, serta kemungkinan fenomena vulkanik lain di sekitar pusat aktivitas. Oleh karena itu, masyarakat maupun wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawasan dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Batas tersebut tetap berlaku selama status Siaga belum berubah.
Dampak erupsi kali ini tidak hanya terlihat di sekitar Selat Sunda karena abu vulkanik terbawa oleh pola angin pada berbagai lapisan atmosfer. Pemantauan pada Minggu pagi menunjukkan terdapat dua klaster utama sebaran abu dengan ketinggian berbeda. Abu hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya. Sementara material pada lapisan lebih tinggi hingga sekitar 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebarannya mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia. Arah sebaran dapat terus berubah mengikuti kondisi angin.
Abu vulkanik tersebut turut berdampak terhadap aktivitas penerbangan sehingga pemantauan ruang udara dilakukan secara intensif. Sejak erupsi awal, puluhan informasi peringatan penerbangan telah diterbitkan untuk memberikan gambaran mengenai lokasi dan pergerakan abu kepada operator penerbangan. Sejumlah bandar udara juga sempat mengalami penghentian operasional sementara pada waktu yang berbeda sebagai langkah keselamatan. Abu vulkanik menjadi perhatian serius dalam penerbangan karena partikel halus dapat mengurangi jarak pandang dan berpotensi mengganggu komponen mesin pesawat. Keputusan operasional bandar udara dilakukan berdasarkan perkembangan sebaran abu serta koordinasi antarlembaga. Kondisi penerbangan karena itu dapat berubah mengikuti hasil pemantauan terbaru.
Di wilayah laut, pemantauan juga dilakukan untuk memastikan aktivitas Anak Krakatau tidak menimbulkan perubahan signifikan pada muka air di Selat Sunda. Puluhan sensor pengukur muka air laut yang dipantau hingga Minggu pagi belum menunjukkan adanya anomali yang mengarah pada tsunami. Pemantauan menggunakan teknologi radar di kawasan Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan tingkat probabilitas tsunami masih rendah pada periode pengamatan tersebut. Kondisi ini tetap diawasi karena sejarah Anak Krakatau memiliki keterkaitan dengan peristiwa tsunami akibat perubahan tubuh gunung. Badan Geologi menilai tubuh Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi saat ini, kondisinya belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami seperti kejadian sebelumnya.
Aktivitas erupsi juga menghasilkan sejumlah fenomena sekunder yang terekam oleh instrumen pemantauan. Gangguan geomagnetik dan petir vulkanik sempat terdeteksi di kawasan Lampung Selatan serta Serang seiring meningkatnya aktivitas Anak Krakatau. Petir vulkanik dapat terbentuk ketika partikel-partikel di dalam kolom erupsi mengalami interaksi dan menghasilkan muatan listrik. Intensitas fenomena tersebut dilaporkan menurun dibandingkan periode awal erupsi. Meski demikian, seluruh instrumen tetap dioperasikan selama 24 jam untuk mendeteksi perubahan yang mungkin terjadi. Data dari pemantauan atmosfer, geofisika, muka air laut, serta aktivitas gunung kemudian dianalisis bersama untuk mendukung langkah mitigasi.
Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang tetapi tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan selama Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Warga, wisatawan, nelayan, dan pihak lainnya diminta tidak melakukan kegiatan dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung. Masyarakat di daerah yang mengalami hujan abu dianjurkan menggunakan masker dan mengurangi paparan langsung apabila konsentrasi abu meningkat. Karakter Strombolian menunjukkan bahwa Anak Krakatau dapat mengalami letusan kecil secara berulang, tetapi perkembangan aktivitasnya tetap harus dipantau karena intensitas erupsi dapat berubah. Informasi mengenai abu, kondisi laut, dan aktivitas vulkanik akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan. Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap zona aman menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko selama rangkaian erupsi masih berlangsung.





