Jakarta, 27 Mei 2026 – Seorang jagal hewan kurban bernama Iyung membagikan pengalamannya mengenai proses persiapan penyembelihan hewan kurban saat Iduladha. Ia mengungkapkan bahwa pisau jagal yang digunakan untuk menyembelih hewan biasanya diasah hingga dua jam agar benar-benar tajam dan siap digunakan hanya untuk sekali proses penyembelihan. Menurutnya, ketajaman pisau menjadi faktor sangat penting dalam proses penyembelihan karena berkaitan dengan kelancaran proses serta upaya meminimalkan rasa sakit pada hewan kurban. Persiapan tersebut juga menjadi bagian dari profesionalitas seorang jagal yang memahami tata cara penyembelihan sesuai syariat dan prinsip kesejahteraan hewan. Cerita Iyung pun menarik perhatian masyarakat menjelang momentum Iduladha yang identik dengan tradisi kurban di berbagai daerah.
Iyung menjelaskan bahwa proses mengasah pisau tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena ketajaman harus benar-benar optimal sebelum digunakan. Pisau yang tajam memungkinkan proses penyembelihan berlangsung cepat dan efisien sehingga hewan tidak mengalami penderitaan berkepanjangan. Dalam tradisi penyembelihan kurban, penggunaan alat yang baik memang sangat dianjurkan sebagai bentuk perlakuan yang layak terhadap hewan. Karena itu, para jagal berpengalaman biasanya memiliki teknik khusus dalam merawat dan menyiapkan peralatan sebelum hari penyembelihan tiba. Selain pisau utama, sejumlah peralatan lain juga dipastikan dalam kondisi bersih dan siap digunakan untuk menjaga kualitas proses penyembelihan.
Pengamat peternakan dan kesehatan hewan menilai aspek kesejahteraan hewan atau animal welfare semakin menjadi perhatian dalam pelaksanaan kurban modern. Penyembelihan yang dilakukan secara benar tidak hanya berkaitan dengan aturan agama, tetapi juga standar kesehatan dan etika perlakuan terhadap hewan. Pisau yang tajam dapat membantu mempercepat proses pemotongan sehingga mengurangi stres dan rasa sakit pada hewan kurban. Selain itu, penanganan hewan sebelum disembelih juga dinilai penting agar hewan tidak mengalami ketakutan berlebihan. Karena itu, pelatihan bagi panitia kurban dan jagal terus didorong di berbagai daerah menjelang Iduladha.
Momentum Iduladha sendiri selalu menjadi periode sibuk bagi para jagal hewan kurban di berbagai wilayah Indonesia. Permintaan terhadap jasa penyembelihan meningkat tajam karena banyak masyarakat dan lembaga membutuhkan tenaga berpengalaman untuk menangani hewan kurban dalam jumlah besar. Selain keterampilan teknis, jagal juga dituntut memahami aturan kebersihan dan kesehatan agar proses distribusi daging berjalan aman bagi masyarakat. Pemerintah daerah dan dinas peternakan biasanya turut melakukan pengawasan terhadap kesehatan hewan serta proses penyembelihan untuk memastikan standar keamanan pangan terpenuhi. Tradisi kurban pun tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga melibatkan aspek sosial, kesehatan, dan profesionalitas kerja.
Cerita Iyung mengenai proses mengasah pisau selama dua jam menunjukkan bahwa penyembelihan hewan kurban memerlukan persiapan dan keterampilan yang tidak sederhana. Banyak masyarakat mungkin hanya melihat proses akhir penyembelihan tanpa mengetahui detail persiapan yang dilakukan para jagal di lapangan. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya memperlakukan hewan kurban dengan baik sesuai ajaran agama dan prinsip kemanusiaan. Dengan persiapan yang matang dan teknik yang benar, proses kurban diharapkan dapat berjalan lebih aman, cepat, dan sesuai syariat. Momentum Iduladha pun kembali menjadi ajang memperkuat nilai kepedulian sosial sekaligus penghormatan terhadap tata cara ibadah yang baik.





