Jakarta, 14 September 2026 – Seorang wisatawan asal Korea Selatan memutuskan memeluk agama Islam ketika melakukan perjalanan ke salah satu kota yang dikenal sebagai pusat budaya dan sejarah di Turki. Keputusan tersebut menjadi perhatian setelah sang turis menyampaikan keinginannya mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid setempat. Prosesi berlangsung dengan pendampingan pengurus masjid dan disaksikan sejumlah orang yang berada di lokasi. Sebelum mengucapkan syahadat, wisatawan tersebut mendapatkan penjelasan mengenai prinsip dasar Islam dan makna dari pernyataan yang akan diucapkannya. Ia kemudian menyatakan keputusannya secara sukarela tanpa paksaan. Momen tersebut menjadi pengalaman personal yang berkesan di tengah perjalanan wisatanya selama berada di Turki.
Perjalanan wisatawan tersebut pada awalnya dilakukan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat, sejarah, serta kebudayaan Turki. Negara itu memiliki warisan panjang yang mempertemukan berbagai peradaban dan tradisi keagamaan selama berabad-abad. Banyak bangunan bersejarah, masjid, pasar tradisional, dan kawasan kota lama menjadi tujuan wisatawan internasional. Interaksi langsung dengan kehidupan masyarakat setempat juga memberikan pengalaman berbeda dibandingkan sekadar mengunjungi destinasi wisata. Dalam perjalanan tersebut, wisatawan asal Korea Selatan itu mulai menunjukkan ketertarikan lebih jauh terhadap Islam. Ia kemudian mencari informasi mengenai ajaran dan praktik keagamaan yang ditemuinya.
Ketertarikannya semakin berkembang setelah berinteraksi dengan masyarakat Muslim dan melihat aktivitas keagamaan secara langsung. Suasana masjid menjadi salah satu bagian yang memberikan kesan mendalam selama kunjungannya. Ia mendapatkan kesempatan bertanya mengenai berbagai hal yang sebelumnya belum dipahaminya tentang Islam. Pengurus masjid memberikan penjelasan mengenai keimanan, ibadah, serta tanggung jawab seseorang setelah memutuskan menjadi Muslim. Proses tersebut dilakukan agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan pemahaman dan kehendaknya sendiri. Setelah merasa yakin, wisatawan tersebut menyampaikan keinginan untuk mengucapkan syahadat.
Prosesi masuk Islam dilakukan secara sederhana dan khidmat di dalam masjid. Wisatawan tersebut dibimbing mengucapkan dua kalimat syahadat dan kemudian mendapatkan penjelasan mengenai maknanya. Orang-orang yang menyaksikan prosesi memberikan ucapan selamat setelah rangkaian tersebut selesai. Suasana emosional terlihat karena keputusan itu menjadi perubahan besar dalam perjalanan kehidupan pribadinya. Pengurus masjid juga menyampaikan sejumlah nasihat mengenai proses mempelajari agama secara bertahap. Menjadi Muslim dipahami bukan hanya melalui pengucapan syahadat, tetapi juga perjalanan panjang dalam memahami dan menjalankan ajaran agama.
Setelah prosesi selesai, wisatawan tersebut mendapatkan informasi mengenai sejumlah ibadah dasar dalam Islam. Tata cara salat, bersuci, membaca Al-Qur’an, dan pemahaman mengenai kehidupan sehari-hari menjadi beberapa hal yang dapat dipelajari secara bertahap. Pengurus masjid menekankan bahwa seorang mualaf tidak harus memahami seluruh ajaran dalam waktu singkat. Proses belajar dapat dilakukan sesuai kemampuan dengan mendapatkan bimbingan dari orang yang memiliki pengetahuan memadai. Pendekatan tersebut diperlukan agar perubahan yang dialami tidak terasa sebagai beban. Dukungan komunitas juga dapat membantu mualaf ketika menghadapi berbagai pertanyaan setelah kembali ke lingkungan asal.
Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan wisata dapat berkembang menjadi pengalaman yang jauh lebih personal bagi seseorang. Mengunjungi negara lain memungkinkan wisatawan berinteraksi langsung dengan tradisi, agama, dan cara hidup yang sebelumnya hanya diketahui melalui informasi dari kejauhan. Interaksi semacam itu dapat menghasilkan berbagai respons yang berbeda bagi setiap orang. Sebagian wisatawan mungkin hanya mendapatkan pengalaman budaya, sementara lainnya dapat menemukan pandangan baru yang memengaruhi kehidupan pribadi. Dalam kasus wisatawan Korea Selatan tersebut, perjalanan ke Turki akhirnya berhubungan dengan keputusan mengenai keyakinan. Keputusan tersebut tetap berada sepenuhnya dalam ranah pribadi individu.
Turki memang menjadi salah satu tujuan populer bagi wisatawan Korea Selatan. Kekayaan sejarah dan budaya menjadi daya tarik utama, mulai dari peninggalan Romawi dan Bizantium hingga warisan Kesultanan Utsmaniyah. Masjid bersejarah menjadi bagian penting dari lanskap budaya di berbagai kota. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, sejumlah masjid juga terbuka bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah dan arsitekturnya. Pengunjung biasanya dapat memperoleh informasi mengenai aturan memasuki masjid dan aktivitas keagamaan yang berlangsung di dalamnya. Kondisi tersebut membuka ruang interaksi antara wisatawan dan masyarakat Muslim setempat.
Bagi pengelola masjid, pendampingan terhadap seseorang yang ingin masuk Islam membutuhkan perhatian terhadap kebebasan dan pemahaman individu. Keputusan tersebut tidak boleh dilakukan karena tekanan maupun kepentingan pihak lain. Karena itu, penjelasan mengenai arti syahadat dan prinsip dasar agama biasanya diberikan terlebih dahulu. Setelah seseorang menyatakan keyakinannya, komunitas dapat membantu menyediakan akses terhadap pembelajaran lanjutan. Bagi warga asing, tantangan tambahan dapat muncul ketika mereka kembali ke negara asal dan harus mencari komunitas yang dapat memberikan pendampingan. Ketersediaan materi pembelajaran dalam bahasa yang dipahami juga menjadi penting.
Korea Selatan memiliki komunitas Muslim yang relatif kecil dibandingkan jumlah penduduknya, tetapi fasilitas dan organisasi keagamaan tersedia terutama di kota-kota besar. Seorang mualaf yang kembali ke Korea Selatan dapat mencari masjid maupun komunitas Muslim untuk melanjutkan proses pembelajaran. Dukungan tersebut dapat membantu dalam memahami praktik ibadah sekaligus menyesuaikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses adaptasi setiap mualaf dapat berbeda berdasarkan lingkungan keluarga, pekerjaan, dan kondisi sosial. Karena itu, pendekatan yang terbuka dan bertahap sering menjadi bagian penting dalam pendampingan. Pengalaman selama berada di Turki dapat menjadi awal dari proses pembelajaran yang jauh lebih panjang.
Keputusan turis Korea Selatan memeluk Islam saat mengunjungi kota budaya di Turki akhirnya menjadi salah satu bagian paling penting dalam perjalanan pribadinya. Kunjungan yang bermula sebagai aktivitas wisata berkembang menjadi kesempatan mengenal Islam melalui interaksi langsung dengan masyarakat dan lingkungan masjid. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai prinsip dasar agama, ia menyatakan keinginannya menjadi Muslim dan mengucapkan dua kalimat syahadat secara sukarela. Pengurus masjid kemudian memberikan bimbingan awal agar proses memahami ajaran dapat dilakukan secara bertahap. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan lintas negara dapat membuka ruang perjumpaan dengan budaya dan keyakinan yang berbeda. Bagi wisatawan tersebut, pengalaman di Turki menjadi awal perjalanan baru yang akan berlanjut setelah dirinya kembali ke kehidupan sehari-hari.







